Aria berdiri di tengah reruntuhan, matanya menyala dengan tekad meski dihantui oleh ketakutan. Api menjilat langit malam, menelan rumah-rumah dan sejarah yang terukir dalam batu. Dalam hati kecilnya, dia tahu bahwa kota ini adalah bagian dari dirinya, dan kini, ia harus melindungi apa yang tersisa.
"Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi," gumam Aria, menggenggam erat liontin di lehernya, satu-satunya warisan dari ibunya yang telah lama tiada. Dia menoleh, melihat bayangan iblis yang seolah menantangnya untuk bertindak. "Eldrin, aku akan menyelamatkanmu," dia berjanji dalam hatinya.
Aria berlari melewati jalan-jalan yang dipenuhi puing-puing, menghindari reruntuhan yang jatuh dan api yang mengamuk. Setiap langkah terasa berat, namun panggilan untuk menyelamatkan Eldrin memacu semangatnya. "Di mana kamu, Eldrin?" dia berteriak, suaranya hampir tenggelam dalam gemuruh kehancuran.
Eldrin terhuyung-huyung, matanya menunjukkan ketakutan dan keputusasaan. Aria melangkah maju, menghadapi iblis dengan keberanian yang baru ditemukan. "Kamu tidak akan mengambilnya dariku," dia memproklamirkan dengan suara yang menggema dalam kegelapan.
Kekuatan magis yang terpendam dalam diri Aria meledak, mengusir kegelapan dan membebaskan Eldrin. Eldrin terjatuh ke tanah, terengah-engah namun selamat. "Aria, bagaimana kamu...?" dia bertanya dengan kagum.
Aria mengulurkan tangan, membantu Eldrin berdiri. "Ini baru permulaan," dia berkata dengan senyum yang menguatkan. Bersama-sama, mereka menatap ke arah langit yang mulai memudar, siap untuk menulis nasib baru bagi umat manusia.
