Alif Di pagi yang cerah, Alif, Lana, dan teman-temannya memulai petualangan ke Bukit Angin, tempat yang terkenal dengan angin kencang dan pemandangan luar biasa. Mereka membawa tas berisi alat-alat seperti teropong, kaca pembesar, senter, dan kamera. Sesampainya di kaki bukit, mereka menemukan sebuah papan petunjuk yang mengatakan: “Hanya mereka yang memahami angin yang bisa mencapai puncak.”
Alif Alif memimpin timnya. Ia mengeluarkan kertas dan pensil, lalu mengajak teman-temannya membuat baling-baling dari kertas untuk mengukur arah angin. Dengan bantuan baling-baling itu, mereka mengetahui arah angin yang paling kuat. “Kita harus berjalan ke arah sebaliknya agar lebih mudah,” kata Alif. Mereka berjalan sambil menikmati bunyi gemerisik daun yang tertiup angin.
LanaSaat hampir di tengah bukit, mereka menemukan sebuah tantangan. Ada jalur berbatu yang harus mereka lewati untuk sampai ke pos berikutnya. Lana menyarankan menggunakan papan kecil yang mereka temukan di sekitar untuk membuat jembatan sementara. Dengan bekerja sama, mereka mengatur papan tersebut menjadi pijakan yang aman. “Lihat! Dengan cara ini kita bisa melewatinya,” kata Lana.
Setelah melewati jalur berbatu, mereka sampai di sebuah dataran tinggi. Di sana, terdapat tiang yang menggantungkan kertas teka-teki: “Apa yang selalu bergerak tetapi tidak pernah berhenti?” Alif menggunakan kamera untuk memotret pemandangan sekitar, mencari petunjuk. Mereka memperhatikan awan yang bergerak di langit. “Jawabannya adalah angin!” seru Lana. Dengan jawaban itu, sebuah pintu kayu terbuka, menuntun mereka ke puncak bukit.
Setelah melewati jalur berbatu, mereka sampai di sebuah dataran tinggi. Di sana, terdapat tiang yang menggantungkan kertas teka-teki: “Apa yang selalu bergerak tetapi tidak pernah berhenti?” Alif menggunakan kamera untuk memotret pemandangan sekitar, mencari petunjuk. Mereka memperhatikan awan yang bergerak di langit. “Jawabannya adalah angin!” seru Lana. Dengan jawaban itu, sebuah pintu kayu terbuka, menuntun mereka ke puncak bukit.
Setelah melewati jalur berbatu, mereka sampai di sebuah dataran tinggi. Di sana, terdapat tiang yang menggantungkan kertas teka-teki: “Apa yang selalu bergerak tetapi tidak pernah berhenti?” Alif menggunakan kamera untuk memotret pemandangan sekitar, mencari petunjuk. Mereka memperhatikan awan yang bergerak di langit. “Jawabannya adalah angin!” seru Lana. Dengan jawaban itu, sebuah pintu kayu terbuka, menuntun mereka ke puncak bukit.
















