Lando, landak berduri emas, menatap bayangannya di air. Semua haiwan takut akan keistimewaannya, membuatnya merasa terasing. Tito, seekor tupai yang ceria, tiba-tiba muncul dari balik semak. "Hai, Lando! Kenapa kau kelihatan sedih?" "Semua haiwan takut padaku. Mereka fikir duri emas ini berbahaya," keluh Lando. Tito tersenyum lebar. "Aku tidak takut. Aku rasa duri emasmu istimewa!"
Ketika tidur, Lando bermimpi tentang makhluk besar bermata merah memanggil namanya. Keesokan harinya, angin berbisik, membawa pesan aneh. Dengan penuh rasa ingin tahu, Lando mengikuti bisikan angin ke sebuah pohon purba dengan pintu batu di dasarnya. Tito mengekorinya dengan cemas. "Lando, ke mana kau pergi?" "Aku tak pasti, tapi ada sesuatu yang ingin aku temui," jawab Lando.
Lukisan-lukisan di dinding menggambarkan seekor landak berduri emas bertarung dengan burung besar yang menakutkan. Di tengah bilik, terdapat meja batu dengan gulungan kulit kayu. Lando membukanya dan membaca dengan penuh debar: "Pewaris duri emas, tugasmu adalah melindungi hutan ini. Garuda Hitam bakal kembali. Hanya pewaris sejati boleh menghentikannya." Tito terkejut dan berkata, "Lando... ini bermaksud kau ditakdirkan menentang Garuda Hitam!"
Garuda Hitam menuntut kuasa Lando. "Serahkan kuasamu kepadaku, atau hutan ini akan musnah!" Lando berdiri teguh. "Aku takkan membiarkanmu memusnahkan tempat ini!" Dengan keberanian, Lando mengarahkan duri emasnya ke arah Garuda Hitam, memancarkan cahaya terang yang membuat helang itu menjerit kesakitan.
Sibu, si burung hantu bijaksana, muncul entah dari mana dan berteriak, "Lando! Jangan gunakan kuasamu sepenuhnya! Kau belum bersedia!" Namun sudah terlambat. Lando tersenyum lemah, "Aku adalah penjaga hutan yang sebenar... dan sudah tiba masanya aku kembali ke tempat asal. Tito, jaga hutan ini untukku." Tubuhnya lenyap, meninggalkan beberapa duri emas di tanah.
Tito menggenggam sebatang duri emas, berjanji untuk menjaga hutan seperti yang Lando inginkan. Garuda Hitam lenyap bersama cahaya emas Lando, dan hutan menjadi lebih aman sejak hari itu. Namun, setiap kali bulan penuh bersinar, cahaya emas berkilau di antara pepohonan, seolah-olah roh Lando masih ada, melindungi tempat yang dicintainya. "Aku takkan lupa akan janjiku, Lando," bisik Tito, merasakan kehadiran Lando dalam setiap hembusan angin malam.
















