Upin dan Ipin berjalan riang di lorong sempit menuju pondok, sandal mereka berdecit di tanah basah. Wajah mereka berseri-seri, sesekali saling mengejek dalam tawa kecil. "Ipin, cepatlah! Nanti kawan-kawan tunggu lama," seru Upin, matanya melirik ke belakang. "Iya, iya, betul betul betul!" balas Ipin, berlari kecil agar tak ketinggalan.
Mail, Ehsan, Mei Mei, Susanti, Jarjit, dan Fizi duduk melingkar, wajah penuh harapan. "Hai Upin, Ipin! Kalian lambat, ya," tegur Mail sambil tersenyum nakal. "Hehehe… maaf, tadi tolong Opah dulu," jawab Upin. "Kita main apa hari ini? Ketua kelas sudah siap memimpin!" kata Ehsan bangga, menepuk dadanya.
"Kita main permainan tradisional saja. Seronok tau!" usul Mei Mei, matanya berbinar. "Iya, biar kita bisa main bersama-sama," sambut Susanti. "Pergi ke pondok memetik delima, Kawan berkumpul hati pun gembira," pantun Jarjit, membuat semua tertawa. "Alaa… Jarjit ni memang tak habis-habis berpantun," keluh Fizi, namun senyum tak pernah hilang dari wajahnya.
Permainan pun dimulai; Ipin berdiri di tengah, bersiap menebak gaya. "Aku dulu! Aku dulu!" serunya dengan penuh semangat. "Ipin curang!" protes Upin, lalu semua saling mengejar dengan riang. Angin sepoi-sepoi membuat pondok terasa nyaman, sesekali kain pelikat yang digantung bergoyang lembut.
Anak-anak duduk melingkar di lantai pondok, minum air dari botol yang dibawa. Napas mereka terengah, namun senyum tak pernah pudar. "Hari ini seronok sekali," ucap Mei Mei, mengelap dahi dengan tisu. "Iya, main ramai-ramai memang paling best," tambah Mail. "Kita harus sering main bersama macam ini," ujar Upin. "Betul! Betul! Betul!" sahut Ipin, membuat semua tertawa lagi.
Anak-anak berkemas, menata sandal dan botol air, lalu berjalan pulang bersama, langkah mereka ringan di pematang sawah. Senja menambah keindahan, kenangan hari itu terpatri di hati mereka. Pondok kecil itu pun kembali sepi, menyimpan tawa dan cerita persahabatan. [@ch_9]Narator[/@ch_9_d]"Persahabatan membuat hari-hari menjadi lebih ceria, apalagi jika bermain bersama di pondok kampung."[/@ch_9_d]















