Lee Min-jun duduk di atas panggung kecil, jari-jarinya menari di atas senar gitar, mengalunkan melodi yang melankolis. Di sudut ruangan, Aisyah binti Kamal mendengarkan dengan saksama, hatinya bergetar oleh lirik yang penuh emosi.
"Lagu ini sungguh menyentuh," gumam Aisyah, matanya tak lepas dari Min-jun.
"Terima kasih sudah mendengarkan," jawab Min-jun sambil tersenyum kecil.
Aisyah mengumpulkan keberanian untuk mengajak Min-jun berbincang, hatinya berdebar-debar.
"Apakah semua lagu-lagumu selalu seindah ini?" tanya Aisyah, berharap tidak terlihat gugup.
"Mungkin lebih indah saat ada yang mengapresiasi," balas Min-jun, matanya menatap lembut ke arah Aisyah.
Min-jun dan Aisyah berbicara tentang impian dan kehidupan mereka, setiap kata menguatkan ikatan yang baru terjalin.
"Aku ingin musikku didengar di seluruh dunia," kata Min-jun dengan semangat.
"Dan aku ingin menjelajahi dunia, mungkin kita bisa melakukannya bersama," jawab Aisyah dengan senyuman penuh harap.
Aisyah menyadari waktu yang dimilikinya di Korea semakin menipis, dan keputusan harus segera diambil.
"Bagaimana jika kita tidak bisa bersama setelah ini?" Aisyah bertanya dengan nada cemas.
"Aku tidak tahu, tapi aku ingin mencoba," jawab Min-jun, berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Mereka disambut dengan hangat oleh keluarga Aisyah, pemandangan kampung yang tenang mempesona Min-jun.
"Keluargamu sangat ramah, aku merasa diterima di sini," kata Min-jun sambil menikmati hidangan khas Melayu.
"Aku senang kamu bisa merasakannya, ini adalah bagian dari hidupku yang ingin kubagi," balas Aisyah dengan bangga.
Aisyah menggenggam tangan Min-jun erat, air mata mulai mengalir di pipinya.
"Aku akan merindukanmu setiap hari," bisik Aisyah, suaranya bergetar.
"Aku juga, tapi kita akan menemukan cara untuk bersama lagi," jawab Min-jun, berjanji untuk berjuang demi cinta mereka.
















